BandarQ | AduQ Terpercaya
KUMPULQQ BandarQ | AduQ Terpercaya
Home / Cerita Dewasa / Ayah Mertuaku Yang Gagah Perkasa (Part 1)

Ayah Mertuaku Yang Gagah Perkasa (Part 1)

Seru-Nikmat-Goyangan-Papa-Mertuaku-Yang-Nikmat

Seru Nikmat – Nama saya Nova, dan saya sudah menginjak kepala tiga. Saya sendiri sudah menikah satu tahunan dan sudah memiliki satu orang anak laki-laki. Suamiku sendiri hanya berbeda satu tahun dari saya. Kehidupan kami sendiri terbilang cukup bahagia. Kami sendiri menikah di usia yang terbilang terlambat yakni diatas 30 tahun. Setelah 40 hari saya melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks denganku. Mungkin dia teringat pada saat aku menjerit-jerit kesakitan saat melahirkan anak kami.

Pada saat itu dia turut mendampingiku masuk ke dalam ruang persalinan saat persalinanku. Selain itu, aku juga tengah sibuk dalam mengurus buah hati kami baik itu siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun tengah malam dan menangis dan pada saat itu tugasku adalah untuk menyusuinya sampai dia tertidur kembali. Sementara suamiku sibuk dengan kerjaannya di kantor. Maklum saja dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah untuk bagian teknologi. Jadi wajar dia sering terlambat untuk pulang ke rumah.

Keadaan ini pun berlangsung hari demi hari sampai pada suatu saat hal baru datang di kehidupan kami, khususnya pada kehidupan pribadi saya sendiri. Pada saat itu, kami dikabari bahwa ayah mertua saya akan berkunjung ke tempat kami. Ayah mertuaku sendiri tinggalnya jauh di Amerika Serikat. Selama ini, ayah mertuaku memang tingga;l bersama dengan anak perempuannya yang sudah menikah dengan orang Amerika. Kedatangannya di Indonesia adalah untuk menyelesaikan suatu urusan.

Ibu mertuaku sendiri dikabarkan tidak bisa ikut datang karena sedang sakit. Pada saat kedatangan ayah mertuaku, kami pun menjemputnya di bandara. Suamiku langsung mencari ayahnya. Suamiku langsung berteriak ketika dia berhasil melihat sosok ayahnya yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Ayah mertuaku pun langsung berdiri dan menghampiri kami lalu memeluk suamiku untuk melepas rindu. Ayah mertuaku tampak masih muda dengan umurnya yang sudah hampir memasuki 60 tahun meski terlihat ada beberapa uban yang ada di rambutnya. Postur tubuhnya tinggi dan besar. Kulitnya berwarna gelap dan badannya berotot. Dia tampak tidak pernah meninggalkan kebiasaannya dalam berolahraga sejak dari dulu.  Ayah mertuaku berasal dari Indonesia bagian timur. Dia juga merupakan pensiunan perwira angkatan darat.

“Hai nak Nova. Apa kabar?” sapa ayah mertuaku setelah dia selesai berpelukan dengan suamiku.

“Ayah apa kabar? Sehat-sehat saja kan? Bagaimana dengan keadaan Ibu di Amerika?” tanyaku kepadanya.

“Ibu baik-baik saja kok. Dia tidak bisa ikut karena kakinya agak sakit mungkin karena keseleo,” jawabnya.

“Ayo kita pulang ke rumah,” kata suamiku.

Sejak ayah berada di rumah kami, terasa perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Suasana di dalam rumah lebih hangat, penuh dengan canda tawa. Ayah mertuaku sendiri pandai dalam membawa diri. Dia juga pandai dalam mengambil hati orang. Dengan adanya dia, suamiku lebih betah untuk berada di rumah. Ngobrol bersama dan juga jalan bersama. Akan tetapi pada hari-hari tertentu, pekerjaan kantornya tetap saja menyita waktnya sampai dengan malam hari sehingga dia baru bisa berada di rumah jam 10 malam. Biasanya hal ini terjadi pada hari Senin di setiap minggunya. 

Sampailah peristiwa ini terjadi di hari Senin di minggu ketiga sejak kedatangan ayah mertuaku. Pada sore hari itu, aku baru saja selesai senam seperti biasanya. Sejak satu bulan usai melahirkan anakku, aku pun mulai untuk senam kembali. Karena pada saat aku belum hamil, aku memang orangnya suka melakukan kegiatan senam. Aku biasanya melakukan senam pada sore hari. Usai senam dan mandi, aku langsung makan dan mulai menyusui anakku di kamar. Usai melakukan senam dan mungkin badan merasa penat dan pegal sehabis senam, aku merasa mengantuk. Setelah selesai menyusui anakku dan dia pun sudah tidur, aku kemudian menidurkannya kembali ke box tempat tidurnya. Lalu aku kemudian berbaring di tempat tidur karena saking ngantuknya tanpa terasa aku langsung tertidur sampai lupa untuk mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakana kalau tubuhku terasa nyaman dan rasa penat serta pegal-pegal yang sempat datang terasa hilang.

Bahkan, aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Rasa nyaman itu sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang kemudian membuatku serasa melayang. Seperti ada hembusan angin yang mebuaiku pada bagian-bagian peka yang ada di tubuhku. Aku sendiri tanpa sadar menggeliat dan merasakan lenguhan perlahan. Aku sendiri dalam tidurku bermimpi suamiku tengah membelai-belai tubuhku. Kami sendiri sudah cukup lama tidak berhubungan seks sejak kandunganku memasuki bulan ke 8. Berarti kurang lebih sudah hampir 3 bulan aku belum pernah merasakan belaian dari suamiku yang terbilang agresif dalam menjelajahi bagian-bagian sensitif dari tubuhku ini. Tiba-tiba saja aku sadar dari tidurku. Akan tetapi, mimpiku serasa masih berlanjut. Malah belaian dan juga sentuhan serta remasan suamiku di tubuhkan terasa semakin nyata. Aku sempat mengira bahwa ini adalah perbuatan suamiku yang sudah pulang. Namun saat aku membuka mataku, tampak masih ada cahaya terang yang memancar dari lobang angin yang ada di kamarku yang menandakan hari masih sore.

Apalagi ini hari Senin dan suamiku biasanya tidak pulang begitu cepat. Dalam pikirku siapa yang sedang mencumbuku. Aku kemudian terbangun dan membuka mataku dengan lebar. Hampir saja aku menjerit saat melihat orang yang tengah menggeluti tubuhku. Dan ternyata dia adalah ayah mertuaku sendiri. Ayah mertuaku yang melihatku terbangun justru hanya tersenyum dan meneruskan apa yang diperbuatnya di tubuhku dengan mencium betisku. Daster yang kupakai sendiri sudah terangkat tinggi-tinggi sampai pahaku yang mulus terlihat.

“Ayah! Stop. Hentikan. Jangan yahhh!? jeritku dengan suara yang tertahan karena takut terdengar pembantuku.

“Nova, maafin ayah yah. Kamu jangan marah seperti itu dong sayang,” dia berkata demikian seakan tidak perduli bahwa aku akan mendampratnya.

“Ayah tidak boleh begitu. Cepat keluar. Aku mohon keluar,” pintaku dengan mengiba karena aku melihat tatapan ayah mertuaku sudah sedemikian liarnya dan tangannya sendiri tidak berhenti menggerayang sekujur tubuhku.

Aku mencoba untuk bangun serta buru-buru menurunkan dasterku yang sudah tersingkap ke atas untuk menutupi pahaku yang mulus ini. Kemudian aku berusaha untuk menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Namun mertuaku menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya kemudian mepet kepadaku. Aku sampai ketakutan.

“Ayolah Nova. Kamiu tidak kasihan melihat Ayah seperti ini? Ayolah, Ayah sudah lama merindukan ingin menikmati tubuh Nova yang langsing dan juga padat ini,” desaknya.

“Ayah jangan berbicara seperti itu. Aku ini menantumu. Aku istrinya Roni, anakmu,” jawabku mencoba untuk menyadarkannya.

“Jangan sebut-sebut Roni saat ini. Sungguh tega dia masih belum menggaulimu sampai saat ini nak Nova sejak kamu melahirkan kemarin. Benar-benar keterlaluan,” katanya.

Aku pun tidak tahu bagaimana cara dia memancing hubungan aku dengan suamiku Roni. Dalam benakku, bodohnya Roni tidak tahu kelakuan ayahnya seperti ini. Sambil terus mendesakku dia berkata bahwa dia sudah berhubungan dengan banyak wanita lain selain daripada ibu mertuaku. Dia mengungkapkan bahwa dia tidak pernah mendapatkan wanita yang memiliki tubuh semenarik tubuhku. Aku sendiri setengah tidak percaya dengan omongannya tersebut. Dia seakan hanya ingin merayuku dengan rayuan murahannya dan menganggap aku akan tersanjung dengan rayuannya tersebut. Aku sendiri mencoba untuk menghindar.

Akan tetapi aku tidak bisa lagi untuk bergerak karena aku sudah terpojok di sudut tempat tidur. Saat itu aku tatap wajahnya dan melihat mimik mukanya yang tampak menghitam karena sudah dipenuhi oleh nafsu birahi. Aku kemudian berpikir bagaimana caranya untuk bisa menurunkan hasrat birahi mertuaku yang tampak sudah menggebu-gebu. Melihat dari caranya, aku lalu sadar bahwa mertuaku itu akan berbuat apapun untuk bisa mencapai hal diinginkannya tersebut. Lalu dalam benakku terlintas untuk mengocok kontolnya saja sampai nafsunya tersebut bisa tersalurkan tanpa harus memperkosaku. Dan pada akhirnya dengan hati-hati aku menawarkan diriku untuk melakukan hal tersebut.

“Baiklah ayah. Biar Nova mengocok ayah saja ya. Nova tidak ingin ayah memperkosa Nova. Bagaimana?”

Mertuaku hanya diam dan tampak berpikir sejenak. Raut dari mukanya sendiri tampak kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku mau untuk bernegosiasi.

“Baiklah,” kata mertuaku mengiyakan seakan tidak ada pilihan lain karena pada saat itu aku ngotot tidak akan memberikan apa yang ayahku inginkan.

Bisa dikatakan, ini lah kesalahanku dimana aku terlalu yakin bahwa apa yang kuperbuat ini merupakan jalan keluar untuk bisa meredam keganasan dari mertuaku. Aku berpikir kalau biasanya laki-laki jika sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya lalu kemudian tertidur. Aku kemudian menarik celana pendek yang dipakainya. Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik batang kontolnya langsung melonjak keluar seperti ada pernya. Aku sendiri kaget dan sempat terkesima melihat batang kontol mertuaku tersebut.

Kontol mertuaku benar-benar panjang dan juga besar. Jauh lebih besar daripada suamiku Roni. Batang kontol mertuaku tampak hitam dengan kepala kontolnya yang mengkilap bulat besar dan sangat tegang berdiri gagah perkasa padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku dengan canggung bergerak untuk memegan batang kontolnya. Bagaimanapun baru kali ini aku pegang kontol orang selain daripada suamiku sendiri. Kontol mertuaku yang besar tersebut sampai tidak muat dalam genggaman tanganku. Dengan perlahan aku mulai menggenggam batangnya. Terdengar lenguhan nikmat dari mulut mertuaku sambil menyebut namaku.

“Ooohhh. ssshhh. Novaa, eee, eeena aak. Betulll!!!”

Aku melirik wajahnya dan nampak meringis menahan remasan lembut dari tanganku pada batang kontolnya. Lalu aku mulai menggerakkan tanganku naik turun menyusuri batang kontolnya yang besar panjang dan sudah sangat keras tersebut. Sesekali ujung telunjukku mengucap kepala kontolnya yang sudah licin dengan cairan yang keluar dari liangnya tersebut. Kembali kudengar suara lenguhan mertuaku yang merasakan ngilu akibat dari usapanku tersebut. 

Aku sendiri tahu kalau dia sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa saat dan beberapa kali kocokan, dia akan menyemburkan air maninya. Dalam benakku sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah. Dua menit berlalu, tiga menit, sampai lima menit berikutnya ternyata mertuaku masih cukup perkasa dan masih bertahan dengan kocokanku yang sudah semakin cepat. Aku merasakan tangan mertuaku mulai menggerayangi tubuhku dengan mengarah ke arah payudaraku. Aku lalu mengingatkan supaya untuk tidak berbuat macam-macam. 

“Tidak apa-apa. Agar cepat keluar,” katanya memberi alasan.

Aku hanya bisa mengiyakan dan tidak berusaha untuk menepisnya karena aku berpikir ada benarnya juga agar bisa cepat selesai. Mertuaku pun hanya tersenyum saat melihatku tidak melarangnya. Dia dengan lembut dan berhati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang karena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku.

“Nova sayang, buka ya? Sedikit aja,” pinta mertuaku kemudian.

“Jangan Yah. Tadi kan sudah janji tidak akan macam-macam,” ujarku mengingatkan.

“Sedikit aja. Ya?” desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka.

Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang.

“Oh, Nova kamu benar-benar cantik sekali!!” pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu.

Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa berpikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. Aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku. Bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian memeku pun aku tak berusaha mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku.

Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, dan aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku. Bila sudah kukeluarkan kemampuanku seperti ini pasti dia takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat? Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku. Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan itu pun sudah terlambat. Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat. Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi.

Aku menyesal kenapa memulainya. Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya. Pekikku dalam hati penuh penyesalan. Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi 69. Tidak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar memekku. Akh luar biasa. Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri.

Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku lagi. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasatku yang semula. Aku sudah dan semakin terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui.

Lanjut : Ayah Mertuaku Yang Gagah Perkasa (Part 2)

===================================

=========================================

UNTUK PENDAFTARAN PERMATA POKER , BISA : KLIK DISINI !!!

DewaPoker | Poker Online Terpercaya

=========================================

===================================

Agen Poker Terpercaya

About fiona angeline

Check Also

Seru-Nikmat-Goyangan-Papa-Mertuaku-Yang-Nikmat

Ayah Mertuaku Yang Gagah Perkasa (Part 2)

Seru Nikmat – Sementara kontol itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tidak pernah lepas mengulumnya. …